“Semoga jalan keluar terbuka, semoga kita bisa mengobati jiwa kita dengan doa, jangan sampai menangis dalam putus asa manakala kecemasan menggenggam jiwa kita karena sesungguhnya saat yang paling dekat dengan jalan keluar adalah ketika tlah terbentur pada putus asa”
( Ali bin Abi Thalib RA )
Sekali lagi ku bersujud dihadapan-MU ya Rabbi….. tangisi segala dosa yang menggumpal sumbat kesadaranku akan kebesaran-MU.malam ini kembali ku lantunkan sejuta ampunan atas segala dosa
Aku yang selalu tertatih mengimbangi takdirMU, aku yang selalu sekuat tenaga menahan perih atas segala cobaanMU, aku yang terlalu rapuh menanggung beban keputusan-MU, aku yang tak pernah mempertanyakan segala kehendakMU atas hidupku, izinkan aku malam ini meratap di hadapan-MU ya Rabbi……
Begitu terjal liku peradaban yang harus aku lalui, begitu curam tebing harapan yang mesti aku daki untuk satu cita yang mungkin terlalu sederhana, Malam ini curahkan seribu tetes air mataku yang tlah lama mengembun di sudut sudut lembab perenunganku
Ya Rabbi……bukalah jalan yang terbaik untuk kulalui, tuntunlah aku dengan lembut firman-MU, nyalakanlah cahaya di setiap ruang jiwaku agar tak lagi buta mataku dalam mengarungi surga-MU…….
Semoga segala ampunan mengalir sejukan lembah batinku hapus dahagaku akan rahmat kasih-MU……Amien
aku tak lebih dari gumpalan-gumpalan kekecewaan yang tumbuh bersama kebosanan dan mengkristal menyumbat panas nafasku, rangkaian waktu mengalir tak lebih hanya sebagai urutan ruang yang penuh ratap kesakitan, dimana setiap pintunya melambai dan tersenyum sinis seakan bangga menanti kehadiranku. setiap langkah hidupku tak lebih hanyalah harapan yang tinggalkan jejak kekecewaan tentang entah yang akupun tak pernah bisa untuk mengartikannya. menjerit….. untuk apa menjerit, jika jeritanku hanya akan menambah panjang daftar kebodohanku. meratap…. bagaimana aku bisa meratap, jika ratapanku terbungkam kokoh dinding putus asa. bangun….. bagaimana aku mampu untuk terus berdiri jika terseok langkahku dihantam badai kenyataan. bangunlah ….. dan berharaplah itu semua hanyalah mimpi, atau haruskah aku lelapkan segala tentang hasrat dan cukup hanya dengan impian aku menggapainya… tapi bagaimana bisa..?? jika kenyataan dengan buas mengejarku hingga jauh di alam mimpiku. bagaimana aku tak sakit, bagaimana aku bisa meredam perih…. jika keterbatasan terus mencengkram erat kenyataanku. TUHAN ku bagaimana aku akan kecewa padahal engkaulah harapanku, atau bagaimana aku akan terhina padahal kepada-MUlah aku bersandar dan berserah diri. TUHAN ku bila kesedihan adalah rahmat dari-MU tak semestinya aku menangis untuk itu dan bila kepedihan adalah belai kasih-MU untukku tak semestinya aku meratap untuk itu. ya ALLAH setulus sujudku sedalam ampunku. ku untai seutas benang taubat atas kesombonganku yang tak pernah peduli lembut teguran-MU.



Post a Comment